Minggu, 24 Maret 2013

Nge-Blog Lagi




Kembali, aku mencoba untuk menulis lagi. Entah tentang apa. Pokoknya nulis-nulis dan nulis lagi. Terlalu banyak sebenarnya yang bisa aku sampaikan di blog ini. Tapi saking banyaknya, sampai-sampai aku enggak tahu harus menulis apa ?

Kerjaan, biasa aja. Enggak ada yang spesial yang bisa aku sampaikan. Dengan masa kerja yang meskipun sudah masuk ke-20 tahun, tapi aku masih belum juga bisa disebut sebagai orang kaya, menurutku. Hutang masih banyak, rumah masih numpang isteri.  Jabatan ? cukup tinggi. Tapi sudahlah, lupakan tentang pekerjaanku.

Kerja itu memang kewajiban seorang kepala rumah tangga, dan yang utama kerja itu harus didasari keinginan ibadah. Loh ? masih tetep nulis tentang kerja. Ya.., terus mau nulis apa ? iya, tentang apa ya ? Coba bikin puisi aja yaa…

Judulnya…..

ANGIN

Angin datang
Angin pergi
Angin datang dan pergi

Seperti kamu
Sebentar datang
Sebentar pergi

Kamu bukan angin
Yang hanya bisa kurasa
Kamu nyata dan tampak kulihat
Kugenggam erat
Tapi tetap saja dengan sengaja
Kita saling melepaskan genggaman
Untuk kemudian berpisah

Angin datang
Angin pergi
Angin datang dan pergi

Kamu
Seperti angin
Tapi angin
Tak sepertimu

Kamu adalah angin
Tapi angin bukan kamu


Lumayanlah,
Aku rasa tidak terlalu jelek puisi itu, dan yang jelas cukup membingungkan, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengertinya. Tentunya orang-orang yang membacanya.

Dulu..duluuuuuuuuu sekali aku merasa cukup lihai menulis puisi,  begitu mudah aku merangkai kata-kata. Banyak hal yang bisa kujadikan puisi, tentang, masalah sosial atau tentang hal apa saja. Seiring berjalannya waktu, sibuk dengan pekerjaan dan jauh dari kehidupan berkesenian, aku pun tak bisa lagi menulis puisi. Termasuk membacanya, semasa sekolah dan kuliah dulu aku sering mengikuti lomba baca puisi, dan beberapa kali pernah menjuarainya….

Waktu, yaa waktu yang semakin menggiringku tak lagi bisa menulis atau berpuisi. Selain waktu, pekerjaan juga ikut merubah gaya hidupku, juga setelah aku menikah dan beranak dan tentunya setelah aku menjadi semakin tua.

Diusiaku yang melewati angka empat puluh dan mendekati lima puluh. Aku bertemu dengan komunitas Stand Up Comedy di Samarinda, gairah usia mudaku kembali timbul untuk berkesenian melalui ajang stand up comedy, sebuah jenis seni komedi yang termasuk baru yang kutemui. Sekilas nampak mudah, hanya berdiri dipanggung sendirian, ngomong sesuka kita terserah mau ngomong tentang apa, yang penting lucu dan orang tidak menjadi marah atau tersinggung karenanya. Ternyata buatku sulit. Tak semudah yang kubayangkan, semua itu memerkukan proses belajar yang bukan sebentar. Dan aku larut didalamnya, bersama sekumpulan anak-anak muda yang energik, penuh semangat untuk menjadi yang terbaik, aku turut bersaing dengan mereka untuk menjadi yang terbaik, dan aku rasakan mereka sangat wellcome menerima kehadiranku.

Ditengah-tengah semangat yang menggebu-gebu, aku mengikuti audisi Standup Comedy Indonesia KompasTV di Surabaya (baca Surabaya, 09-Maret-2012), dan aku gagal.!!

Ternyata kegagalan inilah yang membuat aku merasa mentok. Sudah. Selesai. Aku merasa harus mengubur impian, yang sempat timbul, untuk menjadi seorang comic. Aku mulai jarang hadir di acara latihan komunitas berupa Open Mic. Aku benar-benar merasa, sudah enggak ada apa-apanya aku ini dibanding anak-anak muda.

Waah…..!

Koq jadi curhat ?

He..he..he. Bukan curhat, hanya sekedar menyampaikan apa yang terlintas dalam benak. Mumpung masih ingat, belum pikun.

So ?

Yaa..begitulah.

Dan yang parahnya, aku masih menyimpan dendam pada kegagalanku. Masih sering terlintas dalam benakku untuk tetap bisa berkarya di dunia Stand Up Comedy ini.

Insya Allah.

Loh…?

Sudah tulisannya ?

Sepertinya memang sudah.




Loa Duri Ulu, 24 Maret 2013