Kembali, aku mencoba untuk menulis lagi. Entah tentang apa.
Pokoknya nulis-nulis dan nulis lagi. Terlalu banyak sebenarnya yang bisa aku
sampaikan di blog ini. Tapi saking banyaknya, sampai-sampai aku enggak tahu
harus menulis apa ?
Kerjaan, biasa aja. Enggak ada yang spesial yang bisa aku
sampaikan. Dengan masa kerja yang meskipun sudah masuk ke-20 tahun, tapi aku
masih belum juga bisa disebut sebagai orang kaya, menurutku. Hutang masih
banyak, rumah masih numpang isteri.
Jabatan ? cukup tinggi. Tapi sudahlah, lupakan tentang pekerjaanku.
Kerja itu memang kewajiban seorang kepala rumah tangga, dan
yang utama kerja itu harus didasari keinginan ibadah. Loh ? masih tetep nulis
tentang kerja. Ya.., terus mau nulis apa ? iya, tentang apa ya ? Coba bikin
puisi aja yaa…
Judulnya…..
ANGIN
Angin datang
Angin pergi
Angin datang dan pergi
Seperti kamu
Sebentar datang
Sebentar pergi
Kamu bukan angin
Yang hanya bisa kurasa
Kamu nyata dan tampak kulihat
Kugenggam erat
Tapi tetap saja dengan sengaja
Kita saling melepaskan genggaman
Untuk kemudian berpisah
Angin datang
Angin pergi
Angin datang dan pergi
Kamu
Seperti angin
Tapi angin
Tak sepertimu
Kamu adalah angin
Tapi angin bukan kamu
Lumayanlah,
Aku rasa tidak terlalu jelek puisi itu, dan yang jelas cukup
membingungkan, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengertinya. Tentunya orang-orang
yang membacanya.
Dulu..duluuuuuuuuu sekali aku merasa cukup lihai menulis
puisi, begitu mudah aku merangkai
kata-kata. Banyak hal yang bisa kujadikan puisi, tentang, masalah sosial atau
tentang hal apa saja. Seiring berjalannya waktu, sibuk dengan pekerjaan dan
jauh dari kehidupan berkesenian, aku pun tak bisa lagi menulis puisi. Termasuk membacanya,
semasa sekolah dan kuliah dulu aku sering mengikuti lomba baca puisi, dan
beberapa kali pernah menjuarainya….
Waktu, yaa waktu yang semakin menggiringku tak lagi bisa
menulis atau berpuisi. Selain waktu, pekerjaan juga ikut merubah gaya hidupku,
juga setelah aku menikah dan beranak dan tentunya setelah aku menjadi semakin tua.
Diusiaku yang melewati angka empat puluh dan mendekati lima
puluh. Aku bertemu dengan komunitas Stand Up Comedy di Samarinda, gairah usia
mudaku kembali timbul untuk berkesenian melalui ajang stand up comedy, sebuah
jenis seni komedi yang termasuk baru yang kutemui. Sekilas nampak mudah, hanya
berdiri dipanggung sendirian, ngomong sesuka kita terserah mau ngomong tentang
apa, yang penting lucu dan orang tidak menjadi marah atau tersinggung
karenanya. Ternyata buatku sulit. Tak semudah yang kubayangkan, semua itu
memerkukan proses belajar yang bukan sebentar. Dan aku larut didalamnya,
bersama sekumpulan anak-anak muda yang energik, penuh semangat untuk menjadi
yang terbaik, aku turut bersaing dengan mereka untuk menjadi yang terbaik, dan aku
rasakan mereka sangat wellcome menerima kehadiranku.
Ditengah-tengah semangat yang menggebu-gebu, aku mengikuti
audisi Standup Comedy Indonesia KompasTV di Surabaya (baca Surabaya, 09-Maret-2012), dan
aku gagal.!!
Ternyata kegagalan inilah yang membuat aku merasa mentok. Sudah.
Selesai. Aku merasa harus mengubur impian, yang sempat timbul, untuk menjadi
seorang comic. Aku mulai jarang hadir di acara latihan komunitas berupa Open
Mic. Aku benar-benar merasa, sudah enggak ada apa-apanya aku ini dibanding
anak-anak muda.
Waah…..!
Koq jadi curhat ?
He..he..he. Bukan curhat, hanya sekedar menyampaikan apa
yang terlintas dalam benak. Mumpung masih ingat, belum pikun.
So ?
Yaa..begitulah.
Dan yang parahnya, aku masih menyimpan dendam pada
kegagalanku. Masih sering terlintas dalam benakku untuk tetap bisa berkarya di
dunia Stand Up Comedy ini.
Insya Allah.
Loh…?
Sudah tulisannya ?
Sepertinya memang sudah.
Loa Duri Ulu, 24 Maret 2013